Kamis, 13 Oktober 2022

Kain dan Habel

Kain dan Habel

Apa saja peajaran yang bisa kita dapatkan dari kisah Kain dan Hebel?
Berikut ini beberapa pelajaran penting yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan kita dan keluarga kita.

Kejadian 4:4 (TB)  

Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu,

Sebagai orang tua, pastilah kita menginginkan anak-anak kita berhasil dalam hidunya, tercapai cita-citanya dan meraih banyak hal dalam hidupnya. Sebaliknya, bila ada anak-anak kita gagal dalam sekolah maupun kuliahnya, gagal dalam pekerjaan maupun usahanya, pastilah itu akan menyedihkan dan menyusahkan kita.

Tetapi dari semua pencapaian maupun keberhasilan yang dapat diraih anak-anak kita, jangan sampai kita melewatkan yang paling utama dalam hidup merka yaitu mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan Seperti Habel yang diindahkan Tuhan baik dirinya maupun persembahannya, demikianlah kiranya anak-anak kita di hadapan Tuhan.

Kejadian 4:6-7 (TB)  

Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya."

Hati kain menjadi panas karena persembahannya tidak diterima Tuhan. Dengan kasih, Tuhan mengingatkan Kain agar tidak menjadi panas hati, tetap berseri dan bahkan berbuat baik. Tuhan juga mengingatkan Kain agar waspada terhadap dosa yang mengintip.

Sebagai orang tua, kita juga sebaiknya peka melihat anak-anak kita. Apakah mereka sedang panas hati atau sedang berseri. Kita juga harus menegor, mengingatkan, dan mendidik anak-anak kita agar tidak jatuh kedalam dosa apapun. Sekalipun anak-anak kita tidak mendengarkan (seperti kain tidak mendengarkan), kita tidak boleh lelah untuk terus melakukannya.

Kejadian 4:8 (TB)  

Kata Kain kepada Habel, adiknya: "Marilah kita pergi ke padang." Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia.

Sebuah tragedi terjadi dalam keluarga mula-mula, yaitu antara Kain dan Habel. Sebagai seorang kakak, Kain seharusnya menjadi saudara kandung yang bisa menikmati hari-hari bersama dengan penuh kebahagian. Namun karena hatinya yang panas (sekalipun tidak ada kesalahan adiknya), ia telah memilih untuk membunuh adiknya itu.

Saudara kandung, kayak-adik, mari kita belajar dari kisah ini agar kita menetapkan hati yang penuh kasih satu sama lain dan bukan hati yang panas. Bukan membunuh, melainkan saling mendukung dan saling menolong untuk bersama-sama bertumbuh lebih baik dan menjalani hidup sesuai dengan tujuan dan panggilan Tuhan dalam hidup ini.

Kejadian 4:11 (TB)  

Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu.

Perbuatan Kain kepada adiknya itu mendatangkan kutuk baginya. Sebagai orang tua, tentulah kita tidak menginginkan siapapun anak-anak kita menjadi terkutuk atau mengalami apapun yang buruk akibat hubungan adik-kakak yang tidak baik.

Sebagai orang tua, menjadi bagian penting bagi kita untuk memperhatikan dan mengajar anak-anak kita agar mereka hidup bersama dalam kasih persaudaraan yang akan membuat mereka saling mengasihi, saling mendukung dan tidak satupun dari mereka yang mengalami kehidupan yang hancur.

0 komentar:

Posting Komentar

Ps Riyan Siburian, S.Pd., M.Th.. Diberdayakan oleh Blogger.