Kamis, 20 Oktober 2022

Ketika Hubungan Keluarga Hancur

Ketika Hubungan Keluarga Hancur

Alkitab mengisahkan berbagai hubungan dalam keluarga yang rumit. Orang tua yang pilih kasih, mertua yang membenci menantunya, adik kakak yang ingin membunuh dan membalas dendam, anak dengan orang tua, dan masih banyak hubungan keluarga yang baik maupun tidak baik yang dapat kita pelajari dan menjadi berkat bagi kit.

Kepahitan Suami dan Isteri Efesus 4:31 (TB)  

Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.

Suami Isteri, sekalipun sebagai orang percaya yang saling mencintai, ada kalanya suami isteri saling mengecewakan dan menyakiti. Dengan menyadari kenyataan ini, suami isteri harus sepakat untuk mengambil sikap yang rendah hati; meminta maaf dan juga memaafkan.

Suami isteri yang diberkati dan berbahagia dalam pernikahannya, tidak membiarkan sesuatu yang salah dan menyakitkan itu menjadi kepahitan terhadap satu sama lain. Segala kepahitan yang mungkin akan terjadi harus segera dibuang dari hati dan pikiran masing-masing; baik suami maupun isteri.


Isteri yang Tidak Berdiri Bersama Ayub 2:9 (TB)  

Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!"

Tiba-tiba saja Ayub mengalami keadaan yang sangat buruk dimana dia kehilangan harta bahkan anak-anaknya. Kondisi demikian tentulah sangat berat untuk dihadapi tetapi bukannya mendapatkan kekuatan dan dukungan untuk menghadapinya dari seorang isteri, isteri Ayub justru mempertanyakan ketekunan Ayub dalam kesalahannya dan memintanya agar mengutuiki Allahnya dan mati.

Saat kondisi senang dan bahagia, suami isteri pasti akan selalu tersenyum dan penuh dengan perkataan maupun sikap yang manis. Namun suami isteri harus berkomitmen agar mempertahankan semuanya itu sekalipun keadaan menjadi sangat buruk sekalipun; oleh sakit penyakit, ekonomi mapun kemalangan lain. Bukan berkata kutukilah Allahmu dan matilah, tetapi suami isteri harusnya berkata mari kita tetap percaya dan berharap pada pertolongan Tuhan yang setia.


Mertua dan Menantu 1 Samuel 19:10 (TB)  

Lalu Saul berikhtiar menancapkan Daud ke dinding dengan tombaknya, tetapi Daud mengelakkan tikaman Saul, sehingga Saul mengenai dinding dengan tombak itu. Sesudah itu Daud melarikan diri dan luputlah ia pada malam itu

Saul adalah raja Israel tetapi sekaligus juga ayah mertua bagi Daud. Sebagai raja maupun ayah mertua, Saul telah begitu membenci Daud dan sungguh-sungguh bertekad untuk membunuh Daud yang adalah pahlawan perang bagi Israel tetapi juga sebagai menantu baginya. Hubungan ayah mertua dan menantu benar-benar dalam kondisi yang sangat buruk.

Tetapi Daud, sekalipun selalu mendapatkan kesempatan untuk membalas perlakuan Saul, ayah mertuanya itu, Daud menetapkan hati untuk tidak melakukannya. Dia tetap memilih untuk menghormati Saul sebagai raja maupun sebagi ayah mertuanya. Apakah hubungan kita juga tidak baik dengan ayah atau ibu mertua kita? Seperti Daud yang tidak membalaskannya, demikianlah kita juga kita kepada ayah maupun ibu mertua kita.

0 komentar:

Posting Komentar

Ps Riyan Siburian, S.Pd., M.Th.. Diberdayakan oleh Blogger.